Virus bernama human
papilloma virus(HPV) onkogenik, menyerang leher rahim.
Penyakit yang di
sebabkan adalah Kanker Rahim
Gejala Kanker Rahim
Kanker leher rahim
pada stadium awal tidak menunjukkan gejala yang khas, bahkan bisa tanpa gejala.
Pada stadium lanjut sering memberikan gejala : perdarahan post coitus,
keputihan abnormal, perdarahan sesudah mati haid (menopause) serta keluar
cairan abnormal (kekuning-kuningan, berbau dan bercampur darah).
Gejala kanker
rahim tidak spesifik. Studi terbaru menunjukkan bahwa penderita kanker rahim
biasanya mengalami gejala berikut ini secara menetap:
tekanan abdomen
(merasa penuh, bengkak atau kembung)
Perasaan ingin
buang air kecil terus menerus
Gejala lainnya
meliputi:
Gangguan
pencernaan yang menetap (gas atau mual)
Perubahan
kebiasaan BAB tanpa alasan jelas, seperti sembelit
Kehilangan nafsu
makan atau cepat merasa kenyang
Rasa sakit selama
hubungan intim (dispareunia)
Lemas & letih
lesu yang berkelanjutan
Sakit pada daerah
sekitar pinggang/panggul
Perubahan dalam
siklus menstruasi
Cara Penularan
Penularan virus
HPV bisa terjadi melalui hubungan seksual, terutama yang dilakukan dengan
berganti-ganti pasangan. Penularan virus ini dapat terjadi baik dengan cara
transmisi melalui organ genital ke organ genital, oral ke genital, maupun
secara manual ke genital. Karenanya, penggunaan kondom saat melakukan hubungan
intim tidak terlalu berpengaruh mencegah penularan virus HPV. Sebab, tak hanya
menular melalui cairan, virus ini bisa berpindah melalui sentuhan kulit.
Pencegahan Kanker Rahim
Langkah terbaik
yang bisa dilakukan agar tidak terserang kanker rahim adalah dengan melakukan
langkah-langkah pencegahan berikut ini:
Jangan terlalu
sering mencuci vagina dengan antiseptik.
Jangan menaburkan
bedak pada vagina.
Jauhi rokok dan
orang yang merokok.
Mengurangi
konsumsi makanan yang mengandung lemak secara berlebihan. Sebagian estrogen
dalam tubuh dibuat dalam jaringan lemak. Estrogen merupakan salah satu faktor
yang diyakini oleh para ahli sebagai pemicu kanker rahim.
Menghindari
makanan yang mengandung karsinogen (zat pemicu kanker) seperti yang banyak
mengandung pengawet.
Konsumsi
makanan/minuman/buah yang mengandung betakaroten dan antioksidan. Karena
kekurangan zat tersebut dapat memicu timbulnya kanker.
Tidak melakukan
hubungan seks di bawah usia 20 tahun. Hubungan seks idealnya dilakukan ketika
sel-sel mukosa sudah matang. Pada usia muda, sel–sel mukosa umumnya belum
matang sehingga rentan terhadap rangsangan dari luar, termasuk zat-zat kimia
yang di bawa oleh sperma. Akibatnya, sel mukosa dapat berubah sifat menjadi
kanker.
Berolahraga secara
teratur.
Memeriksakan diri
ke dokter secara teratur.
Jika
langkah-langkah pencegahan di atas sudah dilakukan, kemungkinan besar hal-hal
yang dapat menjadi pemicu dapat dihindari dan tubuh akan mampu mencegah
munculnya radikal bebas dalam tubuh.
Pengobatan Kanker Rahim
Tiga jenis utama dari pengobatan untuk kanker serviks adalah operasi, radioterapi, dan kemoterapi.
Stadium pra kanker hingga 1A biasanya diobati dengan histerektomi. Bila pasien masih ingin memiliki anak, metode LEEP atau cone biopsy dapat menjadi pilihan.
Untuk stadium IB dan IIA kanker serviks:
Bila ukuran tumor
< 4cm: radikal histerektomi ataupun radioterapi dengan/tanpa kemo
Bila ukuran tumor
>4cm: radioterapi dan kemoterapi berbasis cisplatin, histerektomi, ataupun
kemo berbasis cisplatin dilanjutkan dengan histerektomi
Kanker serviks
stadium lanjut (IIB-IVA) dapat diobati dengan radioterapi dan kemo berbasis
cisplatin. Pada stadium sangat lanjut (IVB), dokter dapat mempertimbangkan kemo
dengan kombinasi obat, misalnya hycamtin dan cisplatin.
Jika kesembuhan tidak dimungkinkan, tujuannya pengobatan adalah untuk mengangkat atau menghancurkan sebanyak mungkin sel-sel kanker. Kadang-kadang pengobatan ditujukan untuk mengurangi gejala-gejala. Hal ini disebut perawatan paliatif.
Jika kesembuhan tidak dimungkinkan, tujuannya pengobatan adalah untuk mengangkat atau menghancurkan sebanyak mungkin sel-sel kanker. Kadang-kadang pengobatan ditujukan untuk mengurangi gejala-gejala. Hal ini disebut perawatan paliatif.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar