Rabu, 16 Oktober 2013

Rajangan

Latar Belakang
Uang sangat berpengaruh bagi semua orang. Banyak pepatah mengatakan “Uang adalah segalanya tapi segalanya tidak bisa dibeli dengan uang.” Cukup rumit, jika uang adalah segalanya seharusnya segalanya tidak bisa dibeli dengan uang ? Tapi mengapa demikian ? Karena hal yang tidak bisa dibeli dengan uang adalah kerukunan yang berada dalam masyarakat. Jika adanya jarak yang tidak wajar antara masyarakat, maka dengan apa kita bisa menjamin kerukunan yang ada pada masyarakat ?
Mengenai uang, sebenarnya masih banyak dan mungkin sangat banyak masyarakat Indonesia yang hidupnya masih dipenuhi dengan kemlaratan dan kesusahan karena tidak memiliki uang. Tingkat pendidikan di Indonesia yang masih tergolong rendah pun menjadi salah satu penyebab rendahnya perekonomian di Indonesia. Apalagi di daerah Wonosobo. Kota kecil yang penduduknya masih berpenghasilan kecil juga walaupun satu-satunya daerah penghasil carica di Indonesia.
Tidak jarang banyak kasus pencurian sepeda motor terjadi di wilayah Wonosobo. Kejahatan pun melai meraja lela. Semua itu akibat rendahnya pendidikan dan penghasilan yang tidak dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dengan cara dan jalan yang jelas-jelas sangat dilarang agama dan hukum, mereka mencari uang untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka di dunia tanpa memikirkan kehidupannya kelak di akhirat.
Bhineka Tunggal Ika yang kini mulai sirna di dalam lubuk hati masyarakat Wonosobo. Jelas dengan perbedaan profesi dan kekayaan yang sangat menonjol di kalangan masyarakat Wonosobo. Jarak antara orang kaya dan orang miskin semakin renggang. Jarang adanya kerukunan di antara keduanya. Perbedaan di bidang horizontal ini sangat mengancam keutuhan NKRI. Jika semua orang menjadi individualism, maka apa yang bisa dibanggakan Indonesia yang kaya akan ras dan suku ? perbedaan agama ? dan perbedaan profesi ? saat ini di dalam agama yang sama pun jika pembedanya adalah kaya atau miskinnya seseorang, siapakah yang bisa menyatukan selain keduanya ?
Maka sangat diperlukan adanya kesadaran antar manusia walaupun dengan perbedaan yang sangat jelas yaitu kaya dan miskin. Orang kaya yang kreatif bisa membuka lapangan pekerjaan dengan memperkerjakan orang miskin. Dengan begitu orang miskin bisa mendapatkan uang dari hasil jerih payahnya sendiri. Tanpa harus merepotkan dan malah menguntungkan orang kayak arena bekerja untuk orang kaya dan orang kaya memberikan gaji atau upah yang sesuai. Seperti halnya di wilayah Garung Reco, Kabupaten Wonosobo.

Isi dan Pembahasan
Di Kabupaten Wonosobo, lebih dari satu0 kecamatan berada di dalamnya, di antaranya ada Kecamatan Kalikajar. Begitu juga Kecamatan Kalikajar yang mempunyai banyak Desa-desa di wilayahnya. Kecamatan Kalikajar tergolong sangat luas. Daerahnya hampir sampai perbatasan Temanggung – Wonosobo, yaitu Dusun Garung yang terletak di Desa Butuh yang masih mencakup wilayah Kecamatan Kalikajar. Dusun ini berada berada tepat di bawah Gunung Sumbing, gunung yang sudah lama tidak aktif lagi atau sering disebut gunung mati. Udara di bawah gunung ini sangat tinggi, apalagi di daerah dataran tinggi Wonosobo. Dengan udara yang sangat dingin ini orang-orang sekitar memanfaatkan untuk menanan tembakau guna memenuhi kebutuhan keluarga masing – masing. Bisa dikatakan daerah ini adalah penghasil tembakau di Wonosobo, walaupun sebenarnya masih banyak di daerah Wonosobo sebagai penghasil tembakau selain di Dusun Garung, Desa Butuh, Kecamatan Kalikajar ini.
Jumlah penduduk di daerah ini sudah tergolong banyak. Kebanyakan penduduk daerah ini berprofesi sebagai petani dan pekerja. Petani karena banyak sekali lahan di wilayah ini untuk menanam tembakau dan pekerja karena mereka bekerja mengolah tembakau mentah menjadi tembakau setengah jadi. Perbedaan yang sangat dominan di daerah ini adalah adanya kalangan atas dan kalangan bawah walaupun sebenarnya mereka masih beragama sama. Perbedaan yang sangat menonjol ini jika tidak bisa teratasi maka akan terjadi kesenjangan sosial di antara keduanya. Kalangan atas yang semakin individualisme dan kalangan bawah yang semakin minder. Akibatnya yang kaya akan semakin kaya dan yang miskin akan semakin miskin karena tidak adanya alat pemersatu masyarakat yang dapat menyatukan keduanya.
Rajangan adalah salah satu cara yang dilakukan oleh Dusun Garung untuk memperkecil adanya kesenjangan sosial. Ranjangan adalah proses mengolah tembakau mentah menjadi tembakau setengah jadi. Ranjangan di bagi menjadi dua yaitu Proses Rajang dan Proses Nganjang. Para pemilik lahan yang mempunyai tembakau siap panen mencari pekerja untuk di jadikan pekerjanya. Para pekerja juga kebanyak diambil dari Dusun Garung dan ada juga pekerja yang sengaja dating di Dusun ini untuk mencari nafkah. Dengan begitu banyak orang yang mempunyai penghasilan walau tidak seberapa untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari. Lebih dari satu0 pekerja di setiap rumah – rumah. Akan menjadi sangat banyak bila semua pekerja dihitung satu persatu. Dengan cara seperti ini maka akan semakin mengecilnya kesenjangan social dalam masyarakat. Semakin dekatnya hubungan antara kalangan atas dengan kalangan bawah walaupun tetap membedakan status “Juragan” dengan “Pekerja”. Akan tetapi kerukunan didalamnya akan semakin terjalin.
Proses Rajangan ini di bagi menjadi dua versi, yaitu versi siang dan versi malam. Versi siang dilakukan oleh para pekerja laki – laki untuk memanen semua tembakau di lahan setempat. Setelah semua tembakau dipanen, proses selanjutnya adalah memotong halus semua tembakau yang telah di panen. Proses ini dinamakan proses “Rajang Mbako”. Kebanyakan pekerja laki – laki ini bekerja dari siang sampai malam. Setelah semua tembakau dipotong halus, sekarang giliran para pekerja perempuan untuk melakukan tugasnya yaitu menata irisan tembakau di rigen. Rigen adalah sebuah anyaman dari bamboo untuk menjemur potongan halus tembakau. Menata irisan tembakau pun tidak asal menata, tapi juga ada cara khusus dalam menata, yaitu dengan menaruh potongan tembakau yang panjang – panjang seperti mie di tengah rigen dan potongan yang lebih halus lagi di bagian pinggir kanan kirinya. Para pekerja perempuan biasa mengerjakan tugasnya saat malam hari sekitar pukul duasatu.00 – 00.00 WIB. Udara yang sangat dingin tidak menghalangi tekad mereka untuk mencari nafkah untuk keluarganya. Setelah semua rigen dipenuhi dengan potongan tembakau maka para pekerja perempuan bisa pulang ke rumah masing – masing. Tentunya dengan mendapatkan upah untuk pekerjaan mereka hari ini.
Keesokkan harinya, kembali para pekerja laki-laki melaksanakan tugasnya yaitu menjemur tembakau di atas rigen sampai benar – benar kering. Penjemuran potongan tembakau tidak dilakukan di daerah Garung disebabkan udaranya yang tidak terlalu panas karena berada di daerah pegunungan yang udaranya sejuk. Penjemuran potongan tembakau ternyata dilakukan di daerah Parakan yang udaranya sudah tergolong panas. Jarak Parakan dengan Dusun Garung tidak terlalu jauh sekitar satu jam. Potongan tembakau di atas rigen ini akan kering satu hari jika cuaca sangat mendukung, akan tetapi jika musim hujan atau cuaca tidak sedang mendukung, potongan tembakau bisa lebih dari satu hari untuk kering. Hal ini menyebabkan rasa dan aroma tembakau tidak begitu sedap karena terlalu lama lembab. Setelah semua tembakau di atas rigen kering, langkah selanjutnya adalah tembakau di jadikan layu agar mudah untuk digulung. Tembakau yang telah laku di rangkap menjadi dua agar tidak terlalu tipis. Kemudian digulung menjadi satu. Dalam penggulungan tembakau pun juga ada cara tersendiri yaitu dengan membagi potongan mie menjadi empat kemudia memasukkan potongan yang lebih halus di atasnya kemudian di gulung. Memang sulit memahami jika kita tidak melihat sendiri atau melihat fotonya. Satu rigen bisa menjadi empat gulungan. Para pekerja untuk hal ini bisa dilakukan oleh pekerja laki – laku maupun pekerja perempuan. Setelah semua rigen kosong akan potongan tembakau dan akhirnya potongan tembakau telah menjadi gulangan – gulungan, sekarang giliran galungan – gulungan tersebut disimpan dalam keranjang untuk di jual di luar kota. Keranjang untuk menyimpan gulungan tembakau ini juga bukan sembarang kerangjang. Harus menggunakan keranjang khusus agar gulungan tembakau tidak mudah bau atau sampai busuk. Kerangjang ini dibuat dari bambu, seperti halnya keranjang biasa, akan tetapi di dalam keranjang harus dilapisi kulit pohon pisang. Orang Wonosobo biasa menyebutnya dengan sebutan “Debok”. Setelah semua keranjang dipenuhi dengan gulungan tembakau maka tembakau siap untuk dijual ke luar kota, yang nantinya akan dirubah menjadi rokok.
Proses penjualan tembakau ini dilakukan di kota Parakan. Sama seperti saat menjemur tembakau agar kering dan tidak mudah busuk. Harga tembakau yang dijual pun bervariasi. Jika kualitas tembakau itu biasa, maka tembakau akan dihargai senilai kurang lebih 40 ribu per kilonya. Tetapi jika kualitas tembakau itu bagus, maka harga tembakau dapat mencapai 80 ribu per kilonya. Dua kali lipat harga tembakau biasa. Faktanya tidak semua tembakau yang diolah berkualitas bagus, akan tetapi jika perawatan tembakau dari bibit sampai setengah jadi dilakukan dengan sangat teliti dan saksama maka hasilnya pun akan menjadi luar biasa.
Dalam satu keranjang, lebih dari 50 gulungan tembakau di dalamnya. Jika satu gulungan saja seharga 40 ribu maka satu keranjang bisa menghasilnya banyak sekali uang. Faktanya tidak semua tembakau senilai 40 ribu. Kadang ada yang berkualitas rendah, biasa, lumayan bagus dan bahkan sangat bagus. Kualitas sangat mempengaruhi harga tembakau yang dijual. Dengan begitu para pekerja akan mendapat penghasilan yang lumayan dari atasannya.
Dengan cara mempekerjakan penduduk sekitar, maka akan semakin erat tali persaudaraan dalam masyarakat Garung. Juragan juga tidak hanya memberikan perkerjaan ataupun memberikan upah saja, tetapi kadang memberi makan siang dan makan malam untuk para pekerjanya agar mereka bisa bekerja tanpa merasakan lapar karena perut sudah diisi. Rajangan ini merupakan salah satu dari berbagai cara manusia menyatukan kerukunan masyarakat walaupun sebenarnya butuh proses.

Penutup
Kerukunan dalam masyarakat sangat dibutuhkan. Semua manusia pasti akan meninggalkan dunia, bayangkan jika semua manusia bersifat individualism, maka apa yang akan terjadi jika seorang penduduk yang meninggal dunia dan saat itu dia berada dalam masyarakat yang sangat individualisme, tidak mungkin dia menguburkan dirinya sendiri dalam liang lahat, selain itu juga tidak ada ojek yang mengantar dirinya ke liang lahat, lalu siapa yang akan menguburnya disaat dia tidak mempunyai sanak sodara di sana ? Untuk itu sangat diperlukan adanya kerukunan dalam masyarakat walaupun mempunyai perbedaan yang sangat dominan seperti ras, agama, profesi, suku, dan lain – lain. Perbedaan tersebut sebenarnya tidak akan menjadi masalah karena sebenarnya Negara Indonesia adalah Negara Bhineka Tunggal Ika (Berbeda – beda tetapi tetap satu jua). Hanya penduduknya saja yang kurang peka akan kerukunan yang sebenarnya sangat penting bagi kehidupan. Karena sejatinya manusia diciptakan sebagai makhluk sosial, bukan makhluk individualisme. Maka dari itu diperlukan adanya cara untuk mempersatukan masyarakat dengan cara apapun.
Sebagai generasi muda yang akan meneruskan ke mana arah Negara Indonesia ke depannya, kita tidak boleh terhasut oleh hal – hal yang bersifat individual, karena itu akan merugikan diri kita sendiri nantinya. Perbedaan profesi, agama, ras, suku ataupun kalangan yang sangat menonjol, janganlah dijadikan sebagai pemecah kerukunan antar masyarakat, karena dengan adanya perbedaan kita bisa menjadikannya sebagai dasar untuk mempertahankan NKRI yang Bhineka Tunggal Ika. Tidak mungkin Tuhan menciptakan manusia sama tanpa perbedaan. Karena jika Tuhan menciptakan kita sama, maka kita tidak beda jauh dengan hewan yang mempunya wajah yang sama pula. Untuk itu jadikanlah perbedaan menjadi landasan yang kokoh untuk mempersatukan dan mempertahankan NKRI sebagai Negara yang kaya akan perbedaan.

Nama   : Andini Dwima Chaerani

Kelas   : XI. IA. 1 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar