Latar Belakang
Uang sangat berpengaruh bagi semua orang. Banyak
pepatah mengatakan “Uang adalah segalanya tapi segalanya tidak bisa dibeli
dengan uang.” Cukup rumit, jika uang adalah segalanya seharusnya segalanya
tidak bisa dibeli dengan uang ? Tapi mengapa demikian ? Karena hal yang tidak
bisa dibeli dengan uang adalah kerukunan yang berada dalam masyarakat. Jika
adanya jarak yang tidak wajar antara masyarakat, maka dengan apa kita bisa
menjamin kerukunan yang ada pada masyarakat ?
Mengenai uang, sebenarnya masih banyak dan mungkin
sangat banyak masyarakat Indonesia yang hidupnya masih dipenuhi dengan
kemlaratan dan kesusahan karena tidak memiliki uang. Tingkat pendidikan di
Indonesia yang masih tergolong rendah pun menjadi salah satu penyebab rendahnya
perekonomian di Indonesia. Apalagi di daerah Wonosobo. Kota kecil yang
penduduknya masih berpenghasilan kecil juga walaupun satu-satunya daerah
penghasil carica di Indonesia.
Tidak jarang banyak kasus pencurian sepeda motor
terjadi di wilayah Wonosobo. Kejahatan pun melai meraja lela. Semua itu akibat
rendahnya pendidikan dan penghasilan yang tidak dapat memenuhi kebutuhan
sehari-hari. Dengan cara dan jalan yang jelas-jelas sangat dilarang agama dan
hukum, mereka mencari uang untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka di
dunia tanpa memikirkan kehidupannya kelak di akhirat.
Bhineka Tunggal Ika yang kini mulai sirna di dalam
lubuk hati masyarakat Wonosobo. Jelas dengan perbedaan profesi dan kekayaan
yang sangat menonjol di kalangan masyarakat Wonosobo. Jarak antara orang kaya
dan orang miskin semakin renggang. Jarang adanya kerukunan di antara keduanya.
Perbedaan di bidang horizontal ini sangat mengancam keutuhan NKRI. Jika semua
orang menjadi individualism, maka apa yang bisa dibanggakan Indonesia yang kaya
akan ras dan suku ? perbedaan agama ? dan perbedaan profesi ? saat ini di dalam
agama yang sama pun jika pembedanya adalah kaya atau miskinnya seseorang,
siapakah yang bisa menyatukan selain keduanya ?
Maka sangat diperlukan adanya kesadaran antar
manusia walaupun dengan perbedaan yang sangat jelas yaitu kaya dan miskin.
Orang kaya yang kreatif bisa membuka lapangan pekerjaan dengan memperkerjakan
orang miskin. Dengan begitu orang miskin bisa mendapatkan uang dari hasil jerih
payahnya sendiri. Tanpa harus merepotkan dan malah menguntungkan orang kayak
arena bekerja untuk orang kaya dan orang kaya memberikan gaji atau upah yang
sesuai. Seperti halnya di wilayah Garung Reco, Kabupaten Wonosobo.
Isi dan
Pembahasan
Di Kabupaten Wonosobo, lebih dari satu0 kecamatan
berada di dalamnya, di antaranya ada Kecamatan Kalikajar. Begitu juga Kecamatan
Kalikajar yang mempunyai banyak Desa-desa di wilayahnya. Kecamatan Kalikajar
tergolong sangat luas. Daerahnya hampir sampai perbatasan Temanggung –
Wonosobo, yaitu Dusun Garung yang terletak di Desa Butuh yang masih mencakup
wilayah Kecamatan Kalikajar. Dusun ini berada berada tepat di bawah Gunung
Sumbing, gunung yang sudah lama tidak aktif lagi atau sering disebut gunung
mati. Udara di bawah gunung ini sangat tinggi, apalagi di daerah dataran tinggi
Wonosobo. Dengan udara yang sangat dingin ini orang-orang sekitar memanfaatkan
untuk menanan tembakau guna memenuhi kebutuhan keluarga masing – masing. Bisa
dikatakan daerah ini adalah penghasil tembakau di Wonosobo, walaupun sebenarnya
masih banyak di daerah Wonosobo sebagai penghasil tembakau selain di Dusun
Garung, Desa Butuh, Kecamatan Kalikajar ini.
Jumlah penduduk di daerah ini sudah tergolong
banyak. Kebanyakan penduduk daerah ini berprofesi sebagai petani dan pekerja.
Petani karena banyak sekali lahan di wilayah ini untuk menanam tembakau dan pekerja
karena mereka bekerja mengolah tembakau mentah menjadi tembakau setengah jadi.
Perbedaan yang sangat dominan di daerah ini adalah adanya kalangan atas dan
kalangan bawah walaupun sebenarnya mereka masih beragama sama. Perbedaan yang
sangat menonjol ini jika tidak bisa teratasi maka akan terjadi kesenjangan
sosial di antara keduanya. Kalangan atas yang semakin individualisme dan
kalangan bawah yang semakin minder.
Akibatnya yang kaya akan semakin kaya dan yang miskin akan semakin miskin
karena tidak adanya alat pemersatu masyarakat yang dapat menyatukan keduanya.
Rajangan adalah salah satu cara yang dilakukan oleh
Dusun Garung untuk memperkecil adanya kesenjangan sosial. Ranjangan adalah
proses mengolah tembakau mentah menjadi tembakau setengah jadi. Ranjangan di
bagi menjadi dua yaitu Proses Rajang dan Proses Nganjang. Para pemilik lahan
yang mempunyai tembakau siap panen mencari pekerja untuk di jadikan pekerjanya.
Para pekerja juga kebanyak diambil dari Dusun Garung dan ada juga pekerja yang
sengaja dating di Dusun ini untuk mencari nafkah. Dengan begitu banyak orang yang
mempunyai penghasilan walau tidak seberapa untuk memenuhi kebutuhan sehari –
hari. Lebih dari satu0 pekerja di setiap rumah – rumah. Akan menjadi sangat
banyak bila semua pekerja dihitung satu persatu. Dengan cara seperti ini maka akan
semakin mengecilnya kesenjangan social dalam masyarakat. Semakin dekatnya
hubungan antara kalangan atas dengan kalangan bawah walaupun tetap membedakan
status “Juragan” dengan “Pekerja”. Akan tetapi kerukunan didalamnya akan
semakin terjalin.
Proses Rajangan ini di bagi menjadi dua versi, yaitu
versi siang dan versi malam. Versi siang dilakukan oleh para pekerja laki –
laki untuk memanen semua tembakau di lahan setempat. Setelah semua tembakau
dipanen, proses selanjutnya adalah memotong halus semua tembakau yang telah di
panen. Proses ini dinamakan proses “Rajang
Mbako”. Kebanyakan pekerja laki – laki ini bekerja dari siang sampai malam.
Setelah semua tembakau dipotong halus, sekarang giliran para pekerja perempuan
untuk melakukan tugasnya yaitu menata irisan tembakau di rigen. Rigen adalah
sebuah anyaman dari bamboo untuk menjemur potongan halus tembakau. Menata
irisan tembakau pun tidak asal menata, tapi juga ada cara khusus dalam menata,
yaitu dengan menaruh potongan tembakau yang panjang – panjang seperti mie di
tengah rigen dan potongan yang lebih halus lagi di bagian pinggir kanan
kirinya. Para pekerja perempuan biasa mengerjakan tugasnya saat malam hari
sekitar pukul duasatu.00 – 00.00 WIB. Udara yang sangat dingin tidak
menghalangi tekad mereka untuk mencari nafkah untuk keluarganya. Setelah semua
rigen dipenuhi dengan potongan tembakau maka para pekerja perempuan bisa pulang
ke rumah masing – masing. Tentunya dengan mendapatkan upah untuk pekerjaan
mereka hari ini.
Keesokkan harinya, kembali para pekerja laki-laki
melaksanakan tugasnya yaitu menjemur tembakau di atas rigen sampai benar –
benar kering. Penjemuran potongan tembakau tidak dilakukan di daerah Garung
disebabkan udaranya yang tidak terlalu panas karena berada di daerah pegunungan
yang udaranya sejuk. Penjemuran potongan tembakau ternyata dilakukan di daerah
Parakan yang udaranya sudah tergolong panas. Jarak Parakan dengan Dusun Garung
tidak terlalu jauh sekitar satu jam. Potongan tembakau di atas rigen ini akan
kering satu hari jika cuaca sangat mendukung, akan tetapi jika musim hujan atau
cuaca tidak sedang mendukung, potongan tembakau bisa lebih dari satu hari untuk
kering. Hal ini menyebabkan rasa dan aroma tembakau tidak begitu sedap karena
terlalu lama lembab. Setelah semua tembakau di atas rigen kering, langkah
selanjutnya adalah tembakau di jadikan layu agar mudah untuk digulung. Tembakau
yang telah laku di rangkap menjadi dua agar tidak terlalu tipis. Kemudian digulung
menjadi satu. Dalam penggulungan tembakau pun juga ada cara tersendiri yaitu
dengan membagi potongan mie menjadi empat kemudia memasukkan potongan yang
lebih halus di atasnya kemudian di gulung. Memang sulit memahami jika kita
tidak melihat sendiri atau melihat fotonya. Satu rigen bisa menjadi empat
gulungan. Para pekerja untuk hal ini bisa dilakukan oleh pekerja laki – laku
maupun pekerja perempuan. Setelah semua rigen kosong akan potongan tembakau dan
akhirnya potongan tembakau telah menjadi gulangan – gulungan, sekarang giliran
galungan – gulungan tersebut disimpan dalam keranjang untuk di jual di luar
kota. Keranjang untuk menyimpan gulungan tembakau ini juga bukan sembarang
kerangjang. Harus menggunakan keranjang khusus agar gulungan tembakau tidak
mudah bau atau sampai busuk. Kerangjang ini dibuat dari bambu, seperti halnya
keranjang biasa, akan tetapi di dalam keranjang harus dilapisi kulit pohon
pisang. Orang Wonosobo biasa menyebutnya dengan sebutan “Debok”. Setelah semua keranjang dipenuhi dengan gulungan tembakau
maka tembakau siap untuk dijual ke luar kota, yang nantinya akan dirubah
menjadi rokok.
Proses penjualan tembakau ini dilakukan di kota
Parakan. Sama seperti saat menjemur tembakau agar kering dan tidak mudah busuk.
Harga tembakau yang dijual pun bervariasi. Jika kualitas tembakau itu biasa,
maka tembakau akan dihargai senilai kurang lebih 40 ribu per kilonya. Tetapi
jika kualitas tembakau itu bagus, maka harga tembakau dapat mencapai 80 ribu
per kilonya. Dua kali lipat harga tembakau biasa. Faktanya tidak semua tembakau
yang diolah berkualitas bagus, akan tetapi jika perawatan tembakau dari bibit
sampai setengah jadi dilakukan dengan sangat teliti dan saksama maka hasilnya
pun akan menjadi luar biasa.
Dalam satu keranjang, lebih dari 50 gulungan
tembakau di dalamnya. Jika satu gulungan saja seharga 40 ribu maka satu
keranjang bisa menghasilnya banyak sekali uang. Faktanya tidak semua tembakau
senilai 40 ribu. Kadang ada yang berkualitas rendah, biasa, lumayan bagus dan
bahkan sangat bagus. Kualitas sangat mempengaruhi harga tembakau yang dijual.
Dengan begitu para pekerja akan mendapat penghasilan yang lumayan dari
atasannya.
Dengan cara mempekerjakan penduduk sekitar, maka
akan semakin erat tali persaudaraan dalam masyarakat Garung. Juragan juga tidak
hanya memberikan perkerjaan ataupun memberikan upah saja, tetapi kadang memberi
makan siang dan makan malam untuk para pekerjanya agar mereka bisa bekerja tanpa
merasakan lapar karena perut sudah diisi. Rajangan ini merupakan salah satu
dari berbagai cara manusia menyatukan kerukunan masyarakat walaupun sebenarnya
butuh proses.
Penutup
Kerukunan dalam masyarakat sangat dibutuhkan. Semua
manusia pasti akan meninggalkan dunia, bayangkan jika semua manusia bersifat
individualism, maka apa yang akan terjadi jika seorang penduduk yang meninggal
dunia dan saat itu dia berada dalam masyarakat yang sangat individualisme,
tidak mungkin dia menguburkan dirinya sendiri dalam liang lahat, selain itu
juga tidak ada ojek yang mengantar dirinya ke liang lahat, lalu siapa yang akan
menguburnya disaat dia tidak mempunyai sanak sodara di sana ? Untuk itu sangat
diperlukan adanya kerukunan dalam masyarakat walaupun mempunyai perbedaan yang
sangat dominan seperti ras, agama, profesi, suku, dan lain – lain. Perbedaan
tersebut sebenarnya tidak akan menjadi masalah karena sebenarnya Negara
Indonesia adalah Negara Bhineka Tunggal Ika (Berbeda – beda tetapi tetap satu
jua). Hanya penduduknya saja yang kurang peka akan kerukunan yang sebenarnya
sangat penting bagi kehidupan. Karena sejatinya manusia diciptakan sebagai
makhluk sosial, bukan makhluk individualisme. Maka dari itu diperlukan adanya
cara untuk mempersatukan masyarakat dengan cara apapun.
Sebagai generasi muda yang akan meneruskan ke mana
arah Negara Indonesia ke depannya, kita tidak boleh terhasut oleh hal – hal yang
bersifat individual, karena itu akan merugikan diri kita sendiri nantinya.
Perbedaan profesi, agama, ras, suku ataupun kalangan yang sangat menonjol,
janganlah dijadikan sebagai pemecah kerukunan antar masyarakat, karena dengan
adanya perbedaan kita bisa menjadikannya sebagai dasar untuk mempertahankan
NKRI yang Bhineka Tunggal Ika. Tidak mungkin Tuhan menciptakan manusia sama
tanpa perbedaan. Karena jika Tuhan menciptakan kita sama, maka kita tidak beda
jauh dengan hewan yang mempunya wajah yang sama pula. Untuk itu jadikanlah
perbedaan menjadi landasan yang kokoh untuk mempersatukan dan mempertahankan
NKRI sebagai Negara yang kaya akan perbedaan.
Nama : Andini
Dwima Chaerani
Kelas : XI.
IA. 1
Tidak ada komentar:
Posting Komentar